Jumat, 28 Oktober 2011

Gaya Belajar


salah satu Kegiatan pra belajar yang harus kita perhatikan gaya belajar masing-masing dari kita, ini sesuatu yang penting dan cukup vital karena akan mempengaruhi percepatan/ laju belajar kita.
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda meskipun ada yg sama itupun tidak 100% sama, pasti memiliki unsur yang tidak sama.
Umumnya dalam diri manusia ada 3 macam gaya belajar, yaitu:

A.     Gaya belajar Visual ( penglihatan )
Gaya belajar visual merupakan salah satu gaya belajar yang cenderung kepada kemampuan penglihatan (visual) dalam belajar, dalam artian  seseorang yang memiliki gaya belajar visual akan cenderung mudah menangkap/ mengerti suatu ilmu dengan melihat atau membaca dari pada sekedar mendengar.

Ciri-ciri gaya belajar visual:
  1. rapi dan teratur
  2. berbicara dengan cepat
  3. perencana dan pengatur jangka panjang yang baik
  4. teliti terhadap detail
  5. mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi
  6. pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka
  7. mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar
  8. mengingat dengan asosiasi visual
  9.  biasanya tidak terganggu oleh keributan
  10. mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal, kecuali jika ditulis, dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya
  11. pembaca cepat dan tekun
  12. lebih suka membaca daripada dibacakan
  13. membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek
  14. mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon dan dalam rapat
  15. lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
  16. sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak
  17. lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato
  18. lebih suka seni daripada musik
  19. seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata
  20. kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan

B.    Auditorial ( pendengaran )
Gaya belajar Auditorial mengandalkan pendengaran dalam proses belajarnya, seseorang yang memiliki gaya belajar auditori akan lebih cepat mengerti  dengan diskusi verbal dan mendengarkan orang lain dari pada membaca.
Ciri-ciri gaya belajar auditori
  1. berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
  2. mudah terganggu oleh keributan
  3. menggerakan bibir dan mengucapkan tulisan buku ketika membaca
  4. sering membaca dengan keras dan mendengarkan
  5. dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama dan warna suara
  6. merasa kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita
  7. berbicara dalam irama yang terpola
  8. biasanya pembicara yang fasih
  9.  lebih suka musik daripada seni
  10.  belajar dengan cara mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat
  11. suka berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
  12. mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain
  13. lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  14. lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

C.    Kinestetik/Kinestesia ( Perabaan/Gerakan )
Seseorang yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Seseorang  seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Orang yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik:
  1.  berbicara dengan perlahan
  2. menanggapi perhatian fisik
  3. menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
  4. berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
  5. selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
  6. mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
  7. belajar melalui memanipulasi dan praktik
  8. menghapal dengan cara berjalan dan melihat
  9. menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
  10. banyak menggunakan isyarat tubuh
  11. tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama
  12. tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang tidak pernah berada di tempat itu
  13. menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
  14. menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot-mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  15. kemungkinan tulisannya jelek
  16. ingin melakukan segala sesuatu
  17. menyukai permainan yang menyibukkan

Pada umunya orang jarang menggunakan hanya satu gaya belajar. Jarang ada orang yang hanya belajar hanya secara visual, atau hanya secara auditorial, atau hanya secara kinestetik. Biasanya akan ada kombinasi antara visual,dan auditori atau auditori dan kinestetik atau bahkan kombinasi antara ketiga gaya belajar ini. Tapi tiap orang memiliki salah satu gaya belajar yang menonjol diantara ketiganya.

Sumber: dikutip dari berbagai sumber online dan buku

Minggu, 23 Oktober 2011

Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang melatar belakangi sebuah tindakan. Motivasi Belajar akan muncul jika terdapat daya dorong yang cukup untuk bergerak.Dalam Gambar Kincir Motivasi, Motivasi belajar dibagi menjadi dua :
1. Motivasi Eksternal
Motivasi Esternal akan muncul dari Luar dan pemicunya beragam :
a)      Rasa takut dan Hukuman
Motivasi Belajar akan muncul jika ada ketakutan atau hukuman yang mempengaruhi proses belajar, Misalnya :
·        Ketakutan akan tidak lulus ujian/ulangan
·        Takut dimarahi orangtua kalau tidak belajar
·        Takut dihukum guru jika tidak bisa mengerjakan soal, dll
·        Terpaksa belajar demi mempertahankan posisi/jabatan.
b)      Penghargaan dan Pujian
Motivasi Belajar akan muncul jika terdapat penghargaan/pujian yang layak yang melandasi proses belajar, Misalnya :
·        Belajar karena ingin mendapatkan nilai bagus, sehingga dipuji/disanjung oleh teman, guru.
·        Belajar pengetahuan baru karena ingin mendapatkan promosi atau mendapatkan uang lebih banyak
·        Belajar keras karena kalau lulus diberi hadiah oleh orang tua, dll.
c)       Memiliki Kegunaan/nilai Belajar
Suatu pembelajaran harus mempunyai nilai/makna lebih agar menarik minat seseorang untuk belajar, Misalnya :
Belajar Pengetahuan baru (seperti : kursus bahasa asing, kursus Welding Inspector) demi meningkatkan karir atau mendapatkan rupiah (dolar)

b.      2. Motivasi Internal
              Motivasi Internal bersumber dari dalam diri. Lebih mudah bagi seseorang untuk mendapatkan motivasi eksternal dari pada motivasi internal dalam belajar. Diperlukan upaya yang keras dan sungguh-sungguh untuk membuat “api  motivasi” belajar membara. Tetapi, sekali api tersebut menyala, maka akan sulit bagi siapapun untuk memadamkan baranya. Motivasi internal berlandaskan pada Konsep Diri seseorang, yang mencerminkan bagaimana ia memandang dirinya secara ideal (IDEALISASI DIRI), cara pandang dirinya saat ini dan bagaimana ia ingin dipandang oleh orang lain (CITRA DIRI) serta kepuasan/kebanggaan dalam memandang diri sendiri (HARGA DIRI). Ketiga komponen tersebut akan membentuk keyakinan (KONFIDENSI). Konfidensi atau keyakinan pada kemampuan diri sendiri merupakan kunci utama dalam motivasi internal yang berguna untuk Kesuksesan Belajar.
c.                               Seseorang yang yakin pada dirinya sendiri akan lebih mudah menerima dan mencerna pembelajaran dari pada seseorang yang tidak “pede”. Karena itu seorang pembelajar sejati harus selalu berpikir positif dengan menganggap dirinya sebagai seorang yang PINTAR, CERDAS, dan bukan sebaliknya. 

(Sumber: dikutip dari berbagai sumber)

 (

Selasa, 18 Oktober 2011

Cooperatif Learning (definisi)

 Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
1. Pengertian
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis menggabungkan interaksi antara sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Pembelajaran kooperatif dirancang berdasarkan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial. Karena satu sama lain saling membutuhkan, maka harus ada interaksi antar sesama agar manusia yang berbeda terhindar dari kesalahpahaman antar sesamanya.
Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa adanya interaksi antar pribadi. Lebih lanjut, belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang yang berhubungan dengan yang lain membangun pengertian serta pengetahuan bersama.
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok yang dilakukan secara asal-asalan. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya. Adapun elemen dari pembelajaran kooperatif antara lain adanya : (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka,
(3) akuntabilitas individual atau tanggung jawab individu terhadap pemahaman materi, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan (Nurhadi,dkk 2004:60).
Didalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Setiap anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri, agar tugas selanjutnya dalam kelompok dapat dilaksanakan dan interaksi antar siswa akan lebih intensif. Interaksi yang intensif dapat dipastikan komunikasi antar siswa berjalan dengan lancar. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya dari hasil pemikiran satu kepala. Melalui metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share ini, siswa akan lebih menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.
Barba dalam Indrayati (2006:14) belajar kooperatif adalah strategi pembelajaran kelompok kecil yang digunakan untuk:
1)      Meningkatkan kemampuan akademik melalui kolaborasi kelompok.
2)      Memperbaiki hubungan antar siswa yang berbeda latar belakang etnik dan kemampuannya.
3)      Mengembangkan keterampilan untuk memecahkan masalah melalui kelompok.
4)      Mendorong proses demokrasi di kelas.
Nurhadi (2004:63) menyebutkan bahwa ada banyak alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan. Rahayu (1998), menyebutkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh Johnson dan Johnson menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif sebagaimana terurai berikut :
1)      Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
2)      Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
3)      Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan.
4)      Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen. 
5)      Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
6)      Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
7)      Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga dewasa.
8)      Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan.
9)      Meningkatkan rasa percaya kepada sesama manusia.
10)  Meningkatkan keediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Nurhadi (2004:61) menyebutkan elemen-elemen dalam pembelajaran kooperatif, antara lain:
1)      Saling ketrergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal.
2)      Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat saling bertatap muka, melakukan dialog tidak hanya dengan guru, tetapi juga sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar, sehingga sumber belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat penting karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.
3)      Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan.
4)      Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif, keterampilan seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik ide teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh teguran dari guru tetapi juga dari sesama siswa.
 5)      Proses kelompok
Siswa memprotes keefektifan belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak, serta membuat keputusan ataupun tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Pembelajaran Portofolio

  Langkah Pembelajaran Portofolio
Secara operasional pembelajaran berbasis portofolio dilakukan melalui 5 langkah. Berikut diuraiakan masing-masing langkah-langkah pembelajaran berbasis portofolio:

1 Mengidentifikasi Masalah
Menurut Budimansyah (2008) salah satu ciri warga negara yang baik adalah peka terhadap masalah-masalah yang terjadi dilingkungannya. Untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap masalah, maka para guru menjadikan masalah sebagai sumber belajar.
·        Kegiatan kelompok kecil
Perlu diperhatikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari seringkali dihadapkan sejumlah masalah yang terjadi di masyarakat kita. Untuk mengidentifikasi masalah tersebut, seluruh siswa hendaknya membaca dan mendiskusikannya dengan membentuk kelompok-kelompok kecil kemudian membuat pertanyaan-pertanyaan yang akan diidentifikasi dan dianalisis.
Contoh: masalah yang dijumpai di masyarakat dan erat kaitannya dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan ilmu pengetahuan sosial adalah masalah keluarga, masalah sekolah, masalah yang kaitannya dengan anak-anak usia pubertas, masalah yang menyangkut standar masyarakat, masalah yang menyangkut kebebasan dasar, masalah yang menyangkut lingkungan, masalah yang menyangkut rendahnya tingkat disiplin, masalah yang berskala internasional.
Selain mata pelajaran di atas yang juga berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan dapat diidentifikasi masalahnya adalah pendidikan agama islam, kimia, biologi, fisika, antropologi, sosiologi, ekonomi, geografi,
Sedangkan berdasarkan Mujianto (2007:37), pada tahap ini kegiatan siswa mengidentifikasi masalah yang terjadi di sekitarnya. Untuk mengidentifikasi topik dapat dilakukan secara individual atau kelompok. Sementara itu, kisaran topik dapat diambil dari kegiatan yang telah dilakukan atau dijumpai di masyarakat, baik kegiatan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Pada saat kegiatan dilakukan juga kegiatan pengumpulan data dan referensi yang terkait dengan topik yang ditemukan.
Pada penelitian ini kegiatan pembelajaran menulis deskripsi dilaksanakan dengan cara siswa diajak keluar kelas untuk mengidentifikasi dan melakukan pengamatan pada objek yang ada di luar kelas. Identifikasi dan pengamatan objek dilakukan oleh seluruh siswa dalam kelompok masing-masing.

2 Memilih Masalah/Topik Untuk Kajian
Menurut Budimansyah (2008), apabila telah memiliki cukup informasi, kemudian pilih masalah yang akan dikaji dan pastikan informasi berkenaan dengan masalah tersebut dapat dikumpulkan untuk membuat sebuah portofolio yang baik.
·         Membuat daftar masalah, dalam satu kelas terdapat 9 kelompok kecil dengan 2 tugas menulis deskripsi yang berbeda sehingga didapatkan dalam satu kelas memiliki delapan belas (18) karangan dari kelompok kecil
·         Melakukan pemungutan suara (voting), dilakukan dua tahap:
a.       Setiap kelompok menentukan empat pilihan secara terbuka
b.      Setiap kelompok diharapkan hanya memilih dua dari keempat masalah yang ditemukan.
Dalam hal ini siswa diharapkan mendaftar semua masalah yang telah ditemukan, kemudian diadakan musyawarah atau curah pendapat pada masing-masing kelompok untuk memilih topik yang akan dikaji dalam kelas.

3  Mengumpulkan Informasi Tentang Masalah yang Akan Dikaji
Berdasarkan Budimansyah (2008) kegiatan kelas yang dilaksanakan adalah mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Setelah terpilih masalah yang akan diidentifikasi maka dibuatlah daftar sejumlah sumber informasi kemudian dibuat tim peniliti yang hendak mengumpulkan informasi dari sumber yang telah terdaftar.
Contoh-contoh sumber informasi:
a.       Perpustakaan
b.      Kantor penerbit surat kabar
c.       Biro klipping
d.      Pakar hukum dan hakim
e.       Kepolisian
f.        Jaringan informasi elektronik
g.       Dll.
Setiap kelompok yang telah memilih dua topik sebagai pokok bahasan harus mengumpulkan informasi yang sesuai untuk dijadikan bahan dalam menulis karangan deskripsi. Pengumpulan informasi ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam mengembangkan isi karangan yang sesuai dengan topik terpilih.

4  Mengembangkan Portofolio
Portofolio disimpan pada sebuah map yang berisi data dan informasi setiap kelompok. Bagian ini merupakan kumpulan bahan-bahan terbaik sebagai dokumen atau bukti penelitian, misalnya berupa berita, artikel, gambar, foto, grafik, tabel, data lengkap hasil wawancara, data hasil analisis bahan cetak, dan sebagainya (Budimansyah, 2008).
Sedangkan berdasarkan Mujianto (2007:37), setelah informasi terkumpul dan dianggap cukup dilanjutkan dengan mengembangkan portofolio kelas. Kegiatan yang dilakukan adalah mengerjakan atau menyelesaikan tugas portofolio yang dikaji dalam kelas. Kegiatan portofolio kelas ini berupa informasi yang didapatkan, penyusunan kerangka, pengembangan kerangka menjadi draf awal, dan penyuntingan draf awal sehingga menjadi draf akhir. Pengembangan ini terbagi dua sesi, yaitu sesi pengerjaan dan sesi dokumentasi. Sesi pengerjaan adalah kegiatan pembahasan tugas portofolio dalam kelas. Sementara itu, sesi dokumentasi adalah penyimpanan portofolio dalam sebuah map.

5  Penyajian Portofolio
Pada tahap ini kelompok menyajikan hasil portofolio di depan kelas.

Senin, 10 Oktober 2011

Portofolio

Portofolio
Portofolio pada dasarnya masih belum banyak dikenal dalam bidang pendidikan. Namun, seiring dengan perkembangan model pembelajaran portofolio mulai banyak dibicarakan dan diterapkan. Portofolio mempunyai beberapa arti berdasarkan sudut pandang yang digunakan. Sisworini (2008) mendefinisikan bahwa portofolio merupakan kumpulan dokumen berupa objek penilaian yang dipakai seseorang, kelompok, lembaga, atau organisasi yang bertujuan mendokumentasikan dan mengevaluasi perkembangan suatu proses.
Depag RI (dalam Maryamah, 2005:11) menjelaskan portofolio merupakan suatu pendekatan dalam pelaksanaan penilaian kinerja. Portofolio itu sendiri adalah suatu kumpulan atau berkas bahan pilihan yang dapat memberikan informasi bagi suatu penilaian kinerja yang objektif. Berkas tersebut berisi pekerjaan siswa, dokumen atau gambar yang menunjukkan apa yang dilakukan seseorang dalam lingkungan yang alamiah.
Maryamah (2005) menjelaskan bahwa portofolio adalah suatu kumpulan atau berkas hasil pekerjaan siswa yang dikumpulkan dalam waktu tertentu yang mengandung refleksi diri siswa. Namun berbeda dengan pengertian portofolio menurut Budimansyah.
Budimansyah (2008) membagi pengertian ini menjadi dua yaitu portofolio sebagai wujud fisik dan sebagai suatu proses sosial pedagogis. Sebagai wujud fisik adalah bundel, yakni kumpulan dokumentasi hasil pekerjaan siswa yang disimpan dalan satu bundel. Sedangkan sebagai proses sosial pedagogis portofolio berwujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif). Berdasarkan sifatnya portofolio dapat dikaitkan dengan pembelajaran dan penilaian. Jika disandingkan dengan konsep pembelajaran, portofolio dikenal dengan istilah
pembelajaran berbasis portofolio. Namun bila disandingkan dengan konsep penilaian dikenal dengan istilah penilaian berbasis portofolio.

  Landasan Pemikiran Pembelajaran Berbasis Portofolio
Sebagai suatu inovasi, model pembelajaran berbasis portofolio dilandasi dengan landasan pemikiran yang diungkapkan oleh Budimansyah (2008) sebagai berikut:

1 Landasan Empat Pilar Pendidikan, meliputi:
a         Learning to do, peserta didik harus diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik, sosial maupun budaya.
b        Learning to know, peserta didik harus mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya.
c         Learning to be, peserta didik harus mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya.
Learning to live together, kesempatan berinteraksi dengan kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup.

Kamis, 06 Oktober 2011

Multimedia pembelajaran

1.      Pengertian Multimedia
Multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video (Rosch, 1996) atau multimedia secara umum merupakan kombinasi tiga elemen yaitu, suara, gambar dan teks (Mc Cormick, 1996) atau multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data, media ini dapat berupa audio (suara,musik), animasi, video, teks, grafik dan gambar (Turban dkk, 2002) atau multimedia merupakan alat yang menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio dan gambar video (Robin dan Linda, 2001) (dalam Juaheri 2007,www.ilmukomputer.com)
Definisi lain dari multimedia yaitu dengan menempatkannya dalam konteks, seperti yang dilakukan oleh Hoftsteter (2001), multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, video dan animasi dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi. Dalam definisi ini terkandung empat komponen penting multimedia. Pertama, harus adakomputer yang mengkoordinasi apa yang dilihat dan didengar yang berinteraksi dengan kita. Kedua, harus ada link yang menghubungkan kita dengan informasi. Ketiga, harus ada alat navigasi yang memandu kita, menjelajah jaringan informasi yang saling terhubung. Keempat, multimedia menyediakan tempat kepada kita untuk mengumpulkan, memproses dan mengkomunikasikan informasi dan ide kita sendiri. Jika salah satu komponen tidak ada, maka bukan multimedia dalam arti luas namanya. Dari definisi diatas, maka multimedia ada yang online (internet) dan multimedia yang offline (tradisional).
2.      Unsur-Unsur Multimedia
Unsur-unsur pendukung multimedia antara lain: (dalam http://ariasdimultimedia.wordpress.com/multimedia-dalam-dunia-pendidikan/)
a.       Teks, bentuk data multimedia yang paling mudah disimpan dan dikendalikan adalah teks. Teks merupakan yang paling dekat dengan kita dan yang paling banyak kita lihat. Teks dapat membentuk kata, surat atau narasi dalam multimedia yang menyajikan bahasa kita. Kebutuhan teks tergantung pada kegunaan aplikasi multimedia. Secara umum ada empat macam teks yaitu teks cetak, teks hasil scan, teks elektronis dan hyperteks.
b.      Grafik, alasan untuk menggunakan gambar dalam presentasi atau publikasi multimedia adalah karena lebih menarik perhatian dan dapat mengurangi kebosanan dibandingkan dengan teks. Gambar dapat meringkas dan menyajikan data kompleks dengan cara yang baru dan lebih berguna. Sering dikatakan bahwa sebuah gambar mampu menyajikan seribu kata. Tapi ini berlaku hanya ketika kita biasa menampilkan gambar yang diinginkan saat kita memerlukannya. Multimedia membantu kita melakukan hal ini, yakni ketika gambar grafis menjadi objek suatu link. Grafis sering kali muncul sebagai
c.       backdrop (latar belakang) suatu teks untuk menghadirkan kerangka yang mempermanis teks. Secara umum ada lima macam gambar atau grafik yaitu gambar vektor (vector image), gambar bitmap (bitmap image), clip art, digitized picture dan hyperpicture.
d.      Bunyi atau Sound, bunyi atau sound dalam komputer multimedia, khusunya pada aplikasi bidang bisnis dan game sangat bermanfaat. Komputer multimedia tanpa bunyi hanya disebut unimedia, bukan multimedia. Bunyi atau sound dapat kita tambahkan dalam produksi multimedia melalui suara, musik dan efek-efek suara. Seperti halnya pada grafik, kita dapat membeli koleksi sound disamping juga menciptakan sendiri. Beberapa jenis objek bunyi yang biasa digunakan dalam produksi multimedia yakni format waveform audio, compact disk audio, MIDI sound track dan mp3.
e.       Video, video adalah rekaman gambar hidup atau gambar bergerak yang saling berurutan. Terdapat dua macam video yaitu video analog dan video digital. Video analog dibentuk dari deretan sinyal elektrik (gelombang analog) yang direkam oleh kamera dan dipancarluaskan melalui gelombang udara. Sedangkan video digital dibentuk dari sederetan sinyal digital yang berbentuk yang menggambarkan titik sebagai rangkaian nilai minimum atau maksimum, nilai minimum berarti 0 dan nilai maksimum berarti. Terdapat tiga komponen utama yang membentuk video digital yaitu frame rate, frame size dan data type. Frame rate menggambarkan berapa kali bingkai gambar muncul setiap detiknya, sementara frame size merupakan ukuran fisik sebenarnya dari setiap bingkai gambar dan data type menentukan seberapa banyak perbedaan warna yang dapat muncul pada saat bersamaan.
f.        Animasi dalam multimedia, animasi merupakan penggunaan komputer untuk menciptakan gerak pada layar. Ada sembilan macam animasi yaitu animasi sel, animasi frame, animasi sprite, animasi lintasan, animasi spline, animasi vector, animasi karakter, animasi computational dan morphing.
3.      Keunggulan Multimedia
Kelebihan penggunaan multimedia dalam pendidikan
a.       Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif . Pengajar akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari terobosan pembelajaran.
b.      Mampu mengabungkan antara text, gambar, audio ,musik, animasi gambar atau vidio dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran.
c.       Mampu menimbulkan rasa senang selama proses PBM berlangsung. Hal ini akan menambah motivasi siswa selama proses PBM hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang maksimal.
d.      Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk diterangkan hanya sekedar dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional.
e.       Media penyimpanan yang relatif gampang dan fleksibel.
4.      Multimedia interaktif
Multimedia merupakan perpaduan antara berbagai media (format file) yang berupa teks, gambar (vektor atau bitmap), grafik, sound, animasi, video, interaksi, dll. yang telah dikemas menjadi file digital (komputerisasi), digunakan untuk menyampaikan pesan kepada publik. Pemanfaatan multimedia sangatlah banyak diantaranya untuk: media pembelajaran, game, film, me-dis, militer, bisnis, desain, Arsitektur, olahraga, hobi, iklan/promosi, dll.(Wahono, 2007).
Sedangkan pengertian interaktif sendiri terkait dengan komunikasi 2 arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi. Komponen komunikasi dalam multimedia interaktif (berbasis komputer) adalah hubungan antara manusia (sebagai user/pengguna produk) dan komputer (software/aplikasi/produk dalam format file tertentu, biasanya dalam bentuk CD). Dengan demikian produk/CD/aplikasi yang diharapkan memiliki hubungan 2 arah/timbal balik antara software/aplikasi dengan usernya (Harto, 2008). Interaktifitas dalam multimedia oleh Zeemry (2008:) diberikan batasan sebagai berikut: (1) pengguna (user) dilibatkan untuk berinteraksi dengan program aplikasi; (2) aplikasi informasi interaktif bertujuan agar pengguna bisa mendapatkan hanya informasi yang diinginkan saja tanpa harus “melahap” semuanya. (dalam http://wijayalabs.blogspot.com/2007/11/ Multimedia-intreaktif, diakses tanggal 14 maret 2010)
Berdasar dua pengertian tersebut (multimedia dan interaktif) maka dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif adalah suatu tampilan multimedia yang dirancang oleh desainer agar tampilannya memenuhi fungsi menginformasikan pesan dan memiliki interaktifitas kepada penggunanya (user)